KomisiAIPI itu juga merekomendasikan upaya kolektif G20 untuk mengatasi hambatan global umum berdasarkan penelitian yang diperlukan dan tepat dalam ilmu sosial dan humaniora. Upaya bersama G20 diharapkan dapat meningkatkan taraf hidup dan mata pencaharian serta kesempatan hidup masyarakat dalam menghadapi multidimensi akibat perbuatan manusia
KABUL Program Pembangunan PBB meluncurkan sebuah rencana untuk membantu jutaan warga Afghanistan yang telah kehilangan mata pencaharian di tengah gejolak politik selama ini, untuk mendapatkan kembali kemampuan mencari nafkah dan memberi makan keluarga mereka. Kecepatan dan tingkat kemorosatan ekonomi Afghanistan seperti terjun bebas sejak Taliban menguasai negara itu pada
Globaldata and statistics, research and publications, and topics in poverty and development. WORK WITH US. Jobs, procurement, training, and events. News; Mengelola laut dan ekosistemnya secara berkelanjutan untuk meningkatkan mata pencaharian masyarakat pesisir, melindungi kesehatan laut, dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
cash. Upaya Ini Bertujuan untuk Meningkatkan Ketahanan Masyarakat Pesisir di IndonesiaWashington, DC, 7 Juni 2022. Dewan Direktur Eksekutif Bank Dunia pada tanggal 20 Mei 2022 menyetujui proyek untuk mendukung Pemerintah Indonesia meningkatkan pengelolaan mangrove sekaligus mengembangkan mata pencaharian bagi Mangrove untuk Ketahanan Pesisir akan berfokus pada penguatan kebijakan dan lembaga dalam mengelola dan merehabilitasi mangrove, meningkatkan pengelolaan mangrove secara berkelanjutan, serta meningkatkan berbagai peluang mata pencaharian bagi masyarakat pesisir yang hidup di sekitar hutan mangrove di beberapa daerah.“Keberhasilan proyek ini akan berkontribusi signifikan terhadap pencapaian sasaran pengurangan emisi Indonesia yang tercantum di dalam Nationally Determined Contributions NDC, serta sasaran kita untuk menjadikan sektor kehutanan dan penggunaan lahan sebagai Net Sink pada tahun 2030. Upaya restorasi dan konservasi mangrove sangat penting bagi pencapaian sasaran tersebut, dan merupakan wujud nyata kuatnya komitmen global Indonesia untuk beradaptasi terhadap dan memitigasi berbagai dampak perubahan iklim”, kata Siti Nurbaya Bakar, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik seluas sekitar 3,4 juta hektar, 20 persen dari seluruh mangrove yang ada di dunia berada di Indonesia dan mencakup 40 dari 54 spesies mangrove sejati true mangroves – saat ini tercatat memiliki keanekaragaman terkaya di dunia. Hutan mangrove Indonesia menyimpan 3,14 miliar ton CO2 dikenal dengan sebutan “blue carbon”, atau setara dengan emisi Gas Rumah Kaca yang dihasilkan oleh sekitar 2,5 miliar kendaraan bermotor yang dikendarai selama setahun. Mangrove merupakan komponen utama mata pencaharian masyarakat pesisir, serta menjadi sumber penting untuk makanan dan penghasilan. Sekitar 55 persen dari total biomassa perikanan tangkap di Indonesia merupakan spesies yang bergantung kepada mangrove, dengan produksi tahunan bernilai US$825 juta. Mangrove juga memiliki nilai pariwisata hingga US$30 juta per tahunnya. Penelitian Bank Dunia baru-baru ini mengungkap bahwa mangrove di Indonesia memiliki nilai total tahunan sebesar US$ hingga US$ per nilai yang demikian besar, mangrove di Indonesia perlu direhabilitasi. Dalam 20 tahun terakhir, Indonesia kehilangan hampir hektar mangrove setiap tahunnya lebih luas dari kota Paris, disebabkan oleh faktor-faktor tidak langsung, termasuk permintaan global akan beragam produk, seperti misalnya udang yang kerap dibudidayakan di kawasan yang sebelumnya ditumbuhi oleh mangrove serta kurangnya pemahaman mengenai nilai ekonomis pesisir yang bergantung kepada mangrove untuk ketahanan hidup dan mata pencaharian termasuk di antara mereka yang paling rentan di Indonesia. Mereka memiliki akses yang terbatas kepada layanan umum seperti sekolah menengah, air yang aman digunakan, listrik, dan tranportasi, dan mengalami kemiskinan 1,27 persen lebih tinggi daripada masyarakat yang tinggal di pedesaan bukan pesisir. Saat ini dengan adanya krisis yang disebabkan oleh COVID-19, angka kemiskinan kemungkinan besar meningkat – menekankan perlunya kebijakan dan investasi yang ditargetkan untuk mencapai masyarakat pesisir.“Bank Dunia memuji langkah berani yang telah diambil oleh Pemerintah Indonesia untuk mengendalikan laju pengurangan mangrove serta merehabilitasi kawasan mangrove yang terdegradasi dan terdeforestasii, dan oleh karena itu kami siap mendukung upaya-upaya tersebut. Konservasi ekosistem mangrove Indonesia yang sehat dan upaya rehabilitasi dengan sasaran yang jelas dan menggunakan praktik-praktik baik secara global dapat menghasilkan keuntungan ekonomi yang signifikan bagi negara dalam bentuk ketahanan pesisir, produktivitas sektor perikanan, potensi pariwisata, dan mitigasi dampak perubahan iklim. Melalui proyek ini, Bank Dunia mendukung Indonesia meningkatkan pembangunan hijau yang berketahanan dan inklusif bagi masyarakat pesisir, di antaranya melalui penguatan kelembagaan serta kebijakan di tingkat nasional dan daerah dalam mengelola mangrove, juga menambahkan nilai mangrove dengan memungkinkan adanya skema pembayaran blue carbon yang terkandung di dalam mangrove,” ucap Satu Kahkonen, Direktur Bank Dunia untuk Indonesia dan Timor-Leste. “Dengan mengintegrasikan pengelolaan sumber daya secara berkelanjutan ke dalam perencanaan di tingkat desa dan peningkatan peran perempuan dalam pengelolaan mangrove serta kepemimpinan di desa, kami berharap untuk menyaksikan terjadinya peningkatan tutupan mangrove serta pengurangan laju hilangnya mangrove.”Proyek ini dirancang untuk mendukung Program Rehabilitasi Mangrove Pemerintah yang ditargetkan untuk merehabilitasi mangrove seluas hektar hingga tahun 2024. Pada tahap awal, proyek ini difokuskan di empat provinsi yang memiliki porsi kawasan mangrove yang telah ada maupun yang terdegradasi, yaitu di Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sumatera Utara, dan Riau. Model peningkatan konservasi, rehabilitasi, serta peningkatan mata pencaharian yang diterapkan pada proyek ini berpotensi untuk direplikasi di seluruh wilayah Indonesia. Proyek ini juga mendukung Rencana Aksi Iklim Kelompok Bank Dunia Tahun Fiskal 2021-25 serta Strategi Gender TF 2016-23, terutama dalam hal tujuan strategis terkait peluang ekonomi serta peningkatan suara dan agensi informasi lebih lanjut, kunjungi Ikuti kamiBankDunia
monkeybusinessimages Ruang kerja terbuka di kantor. - Semakin menurunnya jam kerja secara global akibat wabah COVID-19 menyebabkan 1,6 miliar pekerja di perekonomian informal–hampir setengah dari jumlah angkatan kerja global–berada dalam bahaya langsung mengalami kehancuran mata pencarian mereka, demikian Organisasi Perburuhan Internasional International Labour Organization/ILO mengingatkan. Menurut “Monitor ILO edisi ketiga COVID-19 dan dunia kerja”, penurunan jam kerja di kuartal kedua tahun 2020 kini diperkirakan akan semakin buruk dibandingkan estimasi sebelumnya. Dibandingkan dengan tingkatan sebelum krisis Q4 2019, saat ini diperkirakan akan terjadi kemorosotan 10,5 persen, setara dengan 305 juta pekerjaan penuh waktu dengan asumsi 48 jam kerja seminggu. Estimasi sebelumnya adalah penurunan 6,7 persen, setara dengan 195 juta pekerja penuh waktu. Ini diakibatkan perpanjangan dan perluasan tindakan karantina. Baca Juga TIngkatkan Literasi Keuangan di Tengah Pandemi, Berikut Caranya Secara regional, situasi ini memburuk untuk semua kelompok regional utama. Estimasi memperkirakan 12,4 persen hilangnya jam kerja di Q2 untuk kawasan Amerika dibandingkan dengan tingkatan sebelum krisis dan 11,8 persen untuk kawasan Eropa dan Asia Tengah. Estimasi untuk kelompok-kelompok regional lainnya mendekati angka itu dan semuanya di atas 9,5 persen. Dampak perekonomian informal Sebagai akibat dari krisis ekonomi yang disebabkan oleh pandemi, hampir sekitar 1,6 miliar pekerja perekonomian informal mewakili kelompok paling rentan di pasar kerja, dari sekitar dua juta miliar di seluruh dunia dan 3,3 miliar angkatan kerja global, mengalami kerusakan besar dalam kapasitas mereka untuk memperoleh pendapatan. Hal ini dikarenakan tindakan karantina dan/atau karena mereka bekerja di sektor yang paling terkena imbas pandemi. Bulan pertama krisis ini diperkirakan mengakibatkan kemorosotan 60 persen dari penghasilan pekerja informal secara global. Bila dirincikan secara kawasan kemerosotan 81 persen terjadi di kawasan Afrika dan Amerika, 21,6 persen di kawasan Asia dan Pasifik dan 70 persen di Eropa dan Asia Tengah. Tanpa sumber penghasilan alternatif, para pekerja dan keluarganya tidak memiliki sarana apapun untuk bertahan. Usaha terkena risiko Proporsi pekerja yang hidup di negara-negara yang merekomendasikan atau mewajibkan penutupan tempat kerja telah menurun dari 81 menjadi 68 persen selama dua minggu terakhir ini. Penurunan dari estimasi sebelumnya, yaitu 81 persen pada monitor edisi kedua diterbitkan 7 April, utamanya disebabkan oleh perubahan di Tiongkok; sementara di wilayah lainnya penutupan tempat kerja meningkat. Di seluruh dunia, lebih dari 436 juta usaha menghadapi risiko tinggi gangguan yang serius. Usaha-usaha ini beroperasi di sektor ekonomi yang paling terkena imbas pandemi, termasuk 232 juta di sektor usaha eceran, 111 juta di manufaktur, 51 juta di akomodasi dan jasa makanan dan 42 juta di usaha properti dan kegiatan usaha lainnya. PROMOTED CONTENT Video Pilihan
Jelajahi keterkaitan antara Agenda 2030 dan migrasi Arahkan kursor ke ikon setiap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan SDG untuk mengetahui lebih banyak. Baca selengkapnya Migrasi dapat menjadi alat pengentasan kemiskinan yang efektif bagi para migran dan keluarga mereka dan dapat memberikan kontribusi yang signifikan bagi upaya pembangunan baik di negara asal maupun negara tujuan Kerawanan pangan dapat menjadi pendorong migrasi bagi individu dan keluarganya. Menangani kesehatan dan kesejahteraan para migran merupakan prasyarat bagi pembangunan sosial dan ekonomi. Pendidikan dapat memfasilitasi integrasi sosial-ekonomi anak-anak migran dan meningkatkan mata pencaharian mereka sebagai orang dewasa. Kelangkaan air dan isu-isu terkait dapat berdampak pada standar hidup, ketersediaan pangan dan kesehatan yang pada gilirannya dapat menjadi pendorong migrasi. Solusi energi alternatif dan yang murah dapat bermanfaat bagi masyarakat yang rentan atau terlantar dengan akses listrik yang terbatas atau tidak ada sama sekali. Pekerjaan yang layak dan lingkungan kerja yang aman dan terjamin bagi para migran sangat penting agar mereka dapat menjadi anggota masyarakat yang produktif dan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi. Migrasi dapat menjadi sumber pemberdayaan bagi perempuan dan anak perempuan, namun demikian migrasi juga dapat menjadikan mereka menjadi sangat rentan terhadap kekerasan, pelecehan seksual dan eksploitasi. Para migran dapat mentransfer pengetahuan dan keterampilan yang berharga ke negara asal dan tujuan mereka, membantu mendukung pengembangan teknologi, penelitian dan inovasi. Tata kelola migrasi yang efektif sangat penting untuk migrasi yang lebih aman, lebih manusiawi, dan teratur, yang merupakan faktor penting untuk mencapai pembangunan berkelanjutan. Migran membantu kota untuk berkembang dan menjadi pusat ekonomi dan kehidupan yang lebih bersemangat dan sukses. Mempromosikan pola konsumsi dan produksi yang berkelanjutan dapat membantu melindungi pekerja migran dari eksploitasi. Migrasi dapat menjadi strategi adaptasi perubahan iklim yang potensial dan cara untuk membangun ketahanan. Memerangi degradasi ekosistem laut dan pesisir dan mendiversifikasi mata pencaharian masyarakat yang bergantung pada sumber daya laut dapat membantu mengatasi pemindahan paksa dan migrasi. Deforestasi, degradasi lahan, penggurunan, dan hilangnya keanekaragaman hayati dapat berdampak besar pada masyarakat yang mata pencahariannya bergantung pada sumber daya alam dan dapat menjadi pendorong migrasi. Lembaga yang lebih kuat, lebih transparan dan akuntabel serta akses yang lebih baik terhadap keadilan dapat membantu melindungi dan mempromosikan hak-hak migran. Data migrasi yang tepat waktu, andal, dan dapat dibandingkan dapat membantu pembuat kebijakan menyusun kebijakan dan rencana berbasis bukti untuk menangani aspek migrasi SDGs.
mata pencaharian masyarakat global